Alhamdulillah, Kapolda Bali Irjen Pol Benny Mokalu Masuk Islam

ardios | 6:00:00 AM | | | Be the first to comment!
Kabar menggembirakan datang dari lingkungan Kepolisian Daerah Bali. Irjen Pol Albertus Julius Benny Mokalu, yang kini menjabat sebagai Kapolda Bali, bersyahadat memeluk Islam, Jumat (7/11/14) lalu.

Proses pengislaman berlangsung di kediamannya di Denpasar, Bali, dibimbing seorang ulama asal Bengkulu, Habib Abdurrahman.

Jenderal polisi berbintang dua itu memeluk Islam disaksikan sejumlah tokoh dan sejumlah pejabat teras Polda Bali.

“Ini soal keyakinan dan pilihan hati. Ini masalah yang sangat pribadi,” kata Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Hery Wiyanto dikutip dari Republika Online, Ahad (9/11/12).

Hery menjelaskan, Benny Mokalu, lahir di Kupang, NTT, 22 Juli 1959. Sebelum menjabat sebagai Kapolda Bali 16 September 2013, Benny menjabat sebagai Kapolda Bengkulu.

Salah seorang penasihat MUI Bali, Roichan Muchlis mengatakan, juga mendengar peristiwa berislamnya Benny Mokalu. Menurut dia, peristiwa seseorang masuk Islam, dalam keyakinan agama Islam dipandang sebagai hidayah dari Allah dan dalam hal itu, hanya sedikit peran yang bersangkutan.

Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Irjen Pol Benny Mokalu terkait keislamannya. (ROL/sbb/dakwatuna)

Sumber: dakwatuna




Dr. Keith L. Moore: “Ini Tidak Mungkin! Muhammad Pasti Menggunakan Mikroskop”

ardios | 7:38:00 AM | | | 1 Comment so far
DR. KEITH L. MOORE MSc, PhD, FIAC, FSRM adalah Presiden AACA (American Association of Clinical Anatomi ) antara tahun 1989 dan 1991. Ia menjadi terkenal karena literaturnya tentang mata pelajaran Anatomi dan Embriologi dengan puluhan kedudukan dan gelar kehormatan dalam bidang sains.

Dia menulis bersama profesor Arthur F. Dalley II, Clinically Oriented Anatomy, yang merupakan literatur berbahasa Inggris paling populer dan menjadi buku kedokteran pegangan di seluruh dunia. Buku ini juga digunakan oleh para ilmuwan, dokter, fisioterapi dan siswa seluruh dunia.

Pada suatu waktu, ada sekelompok mahasiswa yang menunujukkan referensi al-Qur’an tentang ‘Penciptaan Manusia’ kepada Profesor Keith L Moore, lalu sang Profesor melihatnya dan berkata :

“Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, karena apa yang terkandung di dalam ayat tersebut adalah fakta ilmiah yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak mungkin, Muhammad pasti menggunakan mikroskop!”

Para Mahasiswa tersebut lalu berkata, “Prof, bukankah saat itu Mikroskop juga belum ada?”

“Iya, iya saya tau. Saya hanya bercanda, tidak mungkin Muhammad yang mengarang ayat seperti ini,” jawab sang profesor.

***

“Kemudian Kami menjadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqah (sesuatu yang melekat), lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya mahluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah Pencipta yang paling baik” [QS. Al Mu'minuun: 13-14]

Jika di cermati lebih dalam, sebenarnya ‘alaqah’ dalam pengertian Etimologis yang biasa di terjemahkan dengan ‘segumpal darah’ juga bermakna ‘penghisap darah’, yaitu lintah.

Padahal tidak ada pengumpamaan yang lebih tepat ketika Embrio berada pada tahap itu, yaitu 7-24 hari, selain seumpama lintah yang melekat dan menggelantung di kulit.

Embrio itu seperti menghisap darah dari dinding Uterus, karena memang demikianlah yang sesungguhnya terjadi, Embrio itu makan melalui aliran darah. Itu persis seperti lintah yang menghisap darah. Janin juga begitu, sumber makanannya adalah dari sari makanan yang terdapat dalam darah sang ibu.

Ajaibnya, Embrio Janin dalam tahap itu jika di perbesar dengan mikroskop bentuknya benar-benar seperti lintah. Dan hal itu tidak mungkin jika Muhammad sudah memiliki pengetahuan yang begitu dahsyat tentang bentuk janin yang menyerupai lintah lalu menulisnya dalam sebuah buku.

Padahal pada masa itu belum di temukan mikroskop dan lensa. Jelas itu adalah pengetahuan dari Tuhan, itu wahyu dari Allah SWT, yang Maha Mengetahui segala Sesuatu.

Ayat tersebutlah yang membuat sang profesor akhirnya memeluk Islam dan merevisi beberapa kajian ilmiahnya karena Al-Quran ternyata telah menjawab beberapa bagian yang selama ini membuat sang profesor gusar. Ia merasa materi yang ditelitinya selama ini terasa belum lengkap atau ada tahapan dari perkembangan Embrio yang kurang.

***

Referensi:
American Association Anatomist : A Conversation with Keith L. Moore
Video: Embryology in the Qur’an – Bone and Muscle development
Embryology in the Qur’an – Correlation Studies with Modern Embryology

Sumber:ISLAMPOS




Jessica Rhodes : Hanya Karena Jilbab Rela Memeluk Islam

ardios | 6:29:00 AM | | Be the first to comment!
Hidayah dari Allah Rabbul Alamin bisa bermacam jalannya kepada manusia, dan jika hidayah itu sudah sampai tidak ada yang dapat menghalanginya.

Ini yang sekarang terjadi di berbagai negara, di mana seseorang memeluk dan menerima Islam dengan berbagai jalan, tetapi semua berupa hidayah  dari Allah Rabbul Alamin yang diberikan kepada manusia.

Di London, kota kosmopoliatan di jantung Eropa, seorang gadis mendapatkan sebuah pengalaman, di mana suatu hari ia  memakai jilbab, kemudian menyebabkan,  seorang warga Inggris, yang berusia  21 tahun, memeluk Islam. Ia memulai dengan menggunakan hijab (jilbab), dan banyak membaca tentang Islam dan akhirnya memeluk agama Islam.

Hidup di kota London yang maha sibuk, dan banyaknya berbagai kegiatan, membuatnya menjadi jenuh, dan berbagai peristiwa yang terjadi di Inggris, di mana seringkali komunitas Muslim menjadi sasaran pemberitaaan media,dan dengan negatif, terutama terhadap perempuan yang menggunakan hijab. Kemudian, gadis itu satu menggunakan hijab, dan ia merasa dapat menikkmati dan  hatinya menjadi tenang.

"Aku mengambil bagian dalam kegiatan "Hari Hijab Dunia", dan saya mencoba untuk mengenakan jilbab selama satu bulan," kata Jessica Rhodes. "Saya kemudian mulai membaca Al-Quran dan kata-kata dalam Al-Qur'an tampak logis dan jelas, bukan seperti Alkitab di mana mereka cenderung membingungkan", ungkapnya.

Rhodes berasal dari Norwich, dan berada di London,  ia di antara sejumlah non-Muslim di seluruh dunia yang mengenakan hijab sebagai bagian dari Hari Hijab Dunia tahunan, beberapa waktu lalu.

Acara ini dimaksudkan untuk membersihkan kesalah pahaman bahwa hijab, seakan model berpakaian, dan menjadi simbol penindasan perempuan dalam Islam. Setelah mengenakan pakaian hijab, Rhodes mengatakan, dia tidak bisa mengingat, bagaimana rasanya pergi tanpa mengenakan jilbab lagi, ujarnya. Sungguh menjadi sangat indah hidupnya di tengah gemuruhnya kehidupan di Barat.

Setelah pengalaman itu, Rhodes mulai membaca lebih banyak tentang Islam untuk mengetahui lebih baik tentang agama Islam. "Saya juga melakukan beberapa penelitian tentang Islam secara keseluruhan dan merasa bahwa itu adalah agama inklusif yang bisa memberi saya jawaban yang saya cari," katanya .

Keputusannya Rhodes untuk masuk Islam, menimbulkan berbagai reaksi yang sangat beragam, dan menimbulkan berbagai kontroversi dikalangan masyarakat dilingkkungannya."Sangat beragama reaksi yang mereka lakukan", kenangnya .

    "Orang tua saya tidak senang dan marah, tapi mereka menerima keputusan saya . Mertuaku  sangat mendukung ", kata Rhodes .

"Teman-teman saya bercampur antara perasaan sayang dan bingung - beberapa orang merasa bahagia dengan keputusan saya, tetapi yang lain ingin berdebat dengan saya tentang hal itu, dan yang lain meninggalkan dari hidup saya sama sekali", ungkapnya.

Beberapa pembalap Inggris yang muda mengeluh, banyak Muslim yang gagal mengajak kepada keyakinan yang baru, dan  membantu mereka lebih tahu tentang Islam.

"Saya memiliki beberapa dukungan, tetapi tidak banyak orang sepertinya ingin mengajak saya kepada keyakinan Islam, " keluh Rhodes. "Selalu saya meminta bantuan kepada mereka", tambanya.

Menurut Rhodes  banyak Muslim yang " berpikiran sempit " tentang penafsiran tentang Al-Qur'an. " Ketika saya pergi dan bertanya, kemudian orang mengutip Al Qur'an, dan disampaikan kepada saya, dan tampaknya tidak terbuka untuk interpretasi seorang mualaf tentang Al-Qur'an", kata Rhodes .

"Mereka bisa memperbaiki ini dengan menjadi lebih terbuka terhadap interpretasi lain, karena tidak hanya orang Barat yang bisa berpikiran sempit , sesat dll", ungkapnya.

"Kadang-kadang saya tidak yakin - reaksi dari sebagian besar umat Islam yang telah saya katakan kepada anda, dan  membuat saya merasa seperti  harus meninggalkan Islam, dan kembali ke paganisme, seperti dalam agama, saya diberi pilihan, tentang bagaimana memilih agama saya, dan tidak ada yang peduli, jika saya melakukan hal-hal dengan cara saya atau dengan cara lain", katanya .

    Adapun umat Islam yang ada di tangan Allah. Jika orang di seluruh dunia, dari semua lapisan masyarakat, lebih berpikiran terbuka mungkin kita dapat bergerak maju", kata Rhodes .

"Tapi kalau tidak,  kita hanya akan terus berada dalam lumpur kesalahpahaman, kemarahan dan perang sia-sia, seperti yang sekarang terjadi di dunia Barat, di mana terjadi kesalahpahaman terhadap Islam", tambanya. af/hh




Syarifudin Khalifa, Bocah Yang Mengislamkan Ribuan Orang

ardios | 11:28:00 PM | | Be the first to comment!
Sharifuddin Khalifa boleh dibilang anak ajaib. Anak yang terlahir di Tanzania, Afrika Timur pada Desember 1993 itu berasal dari keluarga Katholik. Namun, pada usia 1,5 tahun, Khalifa sudah hafal 30 juz Alquran dan shalat lima kali sehari.

Subhanallah, ia mampu menghafal Al-Qur'an tanpa ada orang yang mengajarinya. Awalnya, kedua orangtua Khalifa mengira anaknya dikuasai setan.

Namun, tetangganya yang Muslim memahami apa yang diucapkan anak ajaib itu. Akhirnya, kedua orangtuanya menyadari bahwa putranya adalah tanda kebesaran Sang Khalik. Kedua orangtuanya pun memeluk Islam.

Meski berbahasa ibu Swahili, Khalifa mampu berbicara dan berpidato dalam bahasa Arab, Inggris, Prancis, dan Italia tanpa belajar. Pada usia empat hingga lima tahun, ia sudah berkeliling Afrika dan Eropa untuk berceramah dan mengajar.

Berkat dakwaahnya, ribuan orang memeluk Islam. Di Kenya, Afrika sebanyak 1.000 orang berduyun-duyun bersyahadat setelah mendengar ceramahnya.

Sumber : http://hujuraat.blogspot.com/2013/01/syarifuin-khalifa-bocah-yang.html

Lihat videonya disini : http://www.youtube.com/watch?v=OuGQQZAmmxA




Rahasia Dua Laut Yang Berdampingan Namun Berbeda Rasa

ardios | 2:41:00 PM | | | Be the first to comment!
Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara TV `Discovery Chanel’ pasti kenal Mr. Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu membuat pusing Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam.

Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez.

Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laayabghiyaan…” Artinya: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” Artinya “Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.

Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Subhanallah… Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al`Azhim.

Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”

Berikut ini adalah saat Kapten Cousteau menceritakan peristiwa yang telah menyebabkan dia menjadi seorang Muslim :

“In 1962 German scientists said that the waters of the Red Sea and the Indian Ocean did not mix with each other in the Strait of Bab-ul-Mandab where the Aden Bay and the Red Sea join. So we began to examine whether the waters of the Atlantic Ocean and the Mediterranean mixed with each other. First we analyzed the water in the Mediterranean to find out its natural salinity and density, and the life it contained. We repeated the same procedure in the Atlantic Ocean. The two masses of water had been meeting each other in the Gibraltar for thousands of years. Accordingly, the two masses of water must have been mixing with each other and they must have been sharing identical, or, at least, similar properties in salinity and density. On the contrary, even at places where the two seas were closest to each other, each mass of water preserved its properties. In other words, at the point where the two seas met, a curtain of water prevented the waters belonging to the two seas from mixing. When I told Professor Maurice Bucaille about this phenomenon, he said that it was no surprise and that it was written clearly in Islam’s Holy Book, the Qur’an al-karim. Indeed, this fact was defined in a plain language in the Qur’an al-karim. When I knew this, I believed in the fact that the Qur’an al-karim was the ‘Word of Allah’. I choseIslam, the true religion. The spiritual potency inherent in the Islamic religion gave me the strength to endure the pain I had been suffering for the loss of my son.”

Dan terjemahannya sebagai berikut :

“Pada tahun 1962 ilmuwan Jerman mengatakan bahwa air Laut Merah dan Samudera Hindia tidak menyatu satu dengan yang lain di Selat dari Bab-ul-Mandab di tempat Teluk Aden dan Laut Merah bertemu. Jadi kami memulai untuk memeriksa apakah air dari Samudra Atlantik dan Mediterania bertemu satu sama lainnya.

Pertama kita menganalisis air di Mediterania untuk mengetahui habitat, salinitas dan densitas, dan apa yang hidup di dalamnya. Kami mengulangi prosedur yang sama pada Samudera Atlantik. Dua jenis air telah bertemu masing-masing lain dalam Gibraltar selama ribuan tahun. Dengan demikian dua jenis air pasti telah bercampur dengan satu sama lainnya dan mereka pasti sudah berbagi identik, atau, paling tidak, sama salinitas dan densitasnya.

Sebaliknya, bahkan di tempat di mana ada dua laut yang paling dekat dengan satu sama lain, setiap jenis air bahkan seperti dibiarkan terpisah. Dengan kata lain, pada titik di mana dua lautan bertemu, ada sebuah tirai air yang mencegah air masuk ke dalam dua laut dari pencampuran.

Ketika saya memberitahu Profesor Maurice Bucaille tentang fenomena ini, ia mengatakan bahwa tidak terkejut dan bahwa itu ditulis dengan jelas dalam Kitab Suci Islam, Al-Qur’an al-karim. Memang, fakta ini didefinisikan jelas dalam bahasa dalam Al-Qur’an al-karim. Ketika aku mengetahuinya, saya percaya fakta bahwa Al-Qur’an al-karim adalah ‘Firman Allah’.

Saya memilih Islam, agama yang benar. Potensi spiritual yang melekat dalam Agama Islam memberi saya kekuatan untuk menahan rasa sakit atas penderitaan karena kehilangan anakku.”

Perihal ke-Islaman beliau, kini diperdebatkan setelah munculnya surat dari wakil Keuskupan Katolik Roma di Perancis yang menyatakan beliau tidak jadi pindah agama menjadi Islam dan dimakamkan secara Katolik Roma. Namun begitu, saya yakin setelah pengakuan beliau dengan saksi Professor Maurice Bucaille, jati dirinya sebagai Muslim tak akan tergoyahkan setelah beliau melihat sendiri bagaimana Allah membuat suatu keajaiban dari dua buah laut yang bertemu. Yaitu dunia lautan yang sangat beliau cintai sejak kecil. (kisahislami)

Wallahu a’lam