Sukses Dengan Filosofi Panah

ardios | 4:46:00 AM | | | Be the first to comment!
Panah adalah salah satu senjata yang sering digunakan untuk berperang pada zaman dulu karena dulu belum ada bom atom he he he. Dulu belum ada yang namanya senapan, rudal, roket penghancur dan lainnya. Yang ada hanyalah tombak, pedang, golok dan panah. Panah selalu berpasangan dengan busur. Tanpa salah satunya, panah tidak akan berfungsi.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari panah ini? Mari kita lihat...

Coba lihat anak panah! Anak panah selalu runcing di bagian ujungnya. Hal ini dikarenakan supaya panah dapat melumpuhkan dan melukai lawan. Hal ini dapat diibaratkan dengan fokus. Dengan fokus yang tajam, kita bisa menuju dan menembus tujuan yang ingin dicapai. Orang sukses memiliki fokus yang tajam. Mereka fokus dengan apa yang ingin dicapai.

Seperti yang saya katakan tadi, anak panah takkan berfungsi maksimal tanpa busur. Busur diibaratkan dengan alat. Salah satu faktor yang mempercepat kesuksesan kita adalah alat. Anda harus punya alat (tools) yang tepat supaya sukses bisa diraih dengan lebih mudah. Jika Anda ingin pergi ke sebuah tempat yang jaraknya seribu kilometer, manakah yang lebih cepat, jalan kaki, naik sepeda, naik mobil atau naik pesawat? Tentu saja pesawat. Pesawat adalah alat yang paling cepat untuk mengantar Anda sampai ke tempat tujuan. Kalau Anda jalan kaki atau naik sepeda, bisa dipastikan kaki Anda patah yang bahkan dukun patah pun angkat tangan. 

Jika Anda adu balap dengan Valentino Rossi, siapa yang menang? Jika Anda menjawab Rossi, Anda belum sepenuhnya benar. Alat adalah faktor penentunya. Bagaimana jika saat adu balap, Rossi naik sepeda jonder dan Anda naik motor? Sudah pasti Anda yang akan menang. Apakah Anda sudah paham maksudnya? Alat adalah salah satu hal penting yang perlu Anda garisbawahi dalam pencapaian sebuah kesuksesan.

Dalam memanah ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu arah dan kecepatan angin. Angin bisa membuat tembakan Anda meleset. Begitu pula dalam proses meraih kesuksesan pasti akan ada halangan dan rintangan yang perlu Anda perhatikan. Akan ada banyak angin-angin yang membuat Anda meleset dari jalur menuju target. Angin-angin tersebut bisa berupa orang-orang yang berusaha menggagalkan Anda baik secara langsung maupun tidak langsung, bisa juga berupa kegagalan dan masalah tak terduga lainnya. Pemanah harus siap dengan segala macam angin yang datang saat itu. Pemanah yang hebat selalu bisa memanah dengan baik tidak peduli anginnya seperti apa, kecuali angin tornado. Begitu pula orang sukses selalu bisa melewati rintangan demi rintangan sampai akhirnya sukses.

Belajar memanah juga butuh proses. Seorang pemula pasti akan meleset berkali-kali saat pertama kali melakukannya. Butuh kesabara dan keuletan untuk bisa menjadi pemanah andal. Begitu pula dengan kesuksesan yang tidak bisa dicapai hanya dengan sekali jalan. Anda pasti akan gagal berkali-kali bahkan sampai tak terhitung (Kalau Anda nekat hitung, Anda pasti muak dan muntah. Mendingan hitung uang). Jika Anda ingin sukses, Anda harus siap untuk gagal. Gagal adalah hal yang pasti Anda alami. Karena itu Anda harus siap untuk bangkit berkali-kali. Anda harus sabar dan ulet sampai akhirnya sukses berada dalam genggaman tangan.

Dan yang terakhir adalah target. Seorang pemanah harus ada target atau sasaran yang ingin ditembakkan. Begitu pula dengan diri Anda yang harus punya target, tujuan, impian, visi misi dan lainnya. Tanpa tujuan, bisa dipastikan Anda takkan sampai ke sana. Anda seperti berjalan luntang-lantung tak tentu arah. Anda seperti berjalan dengan mata tertutup, tak tahu harus ke mana dan tak tahu berada di mana. Dengan memiliki target atau tujuan, Anda baru bisa fokus ke sana. Dengan memiliki fokus Anda seperti memiliki kompas yang memandu Anda sampai ke sana dan kompas tersebut akan memandu Anda supaya tidak melenceng dari jalur.

Semoga bermanfaat

Source : suhardicamp




Belajar Dari Pohon Kurma

ardios | 3:18:00 AM | | | |
Hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita mencerminkan hidup kita. Sebuah pepatah kuno mengatakan bahwa “orang benar akan bertunas seperti pohon kurma”.

Pohon kurma lazim dijumpai di kawasan Timur Tengah. Kondisi tanah yang kering, gersang, tandus dan kerap dihantam badai gurun yang dahsyat, membuat hanya pohon kurma yang bisa bertahan hidup. Maka, tidak berlebihan kalau pohon kurma dianggap sebagai pohon tahan banting.

Kekuatan pohon kurma ada pada akar-akarnya. Petani di Timur Tengah menanam biji kurma ke dalam lubang pasir lalu ditutup dengan batu. Mengapa biji itu harus ditutup batu?

Ternyata, batu itu akan memaksa pohon kurma berjuang untuk tumbuh ke atas. Justru karena pertumbuhan batang mengalami hambatan, hal tersebut membuat pertumbuhan akar ke dalam tanah menjadi maksimal.

Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon kurma itu tumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yang menekan di atasnya.

“Ditekan dari atas, supaya bisa mengakar kuat ke bawah.”

Bukankah itu prinsip kehidupan yang luar biasa?

Sekarang kita tahu mengapa Allah kerap mengizinkan tekanan hidup datang. Bukan untuk melemahkan dan menghancurkan kita, sebaliknya Allah mengizinkan tekanan hidup itu untuk membuat kita berakar semakin kuat.

Tidak sekadar bertahan, tapi ada waktunya benih yang sudah mengakar kuat itu akan menjebol “batu masalah” yang selama ini menekan. Kita pun keluar menjadi pemenang kehidupan.

Allah mendesain kita seperti pohon kurma. Sebab itu jadilah tangguh, kuat dan tegar menghadapi beratnya kehidupan. Milikilah cara pandang positif bahwa tekanan hidup tidak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi para pemenang kehidupan.

Sebait catatan yang disari dari nasihat (alm) Ustadz Rahmat Abdullah




Biasakan Bicara Positif Terhadap Diri Sendiri

ardios | 12:44:00 AM | | Be the first to comment!
Tahukah bahwa orang bisa melakukan 50.000 kali self talk dalam sehari?

Namun sayangnya 80% orang yang melakukan internal dialog selalu mengatakan hal-hal negatif pada dirinya sendiri.

Bahkan tanpa kita sadari, kita selalu memarahi, menyalahkan, mengutuk dan mengatakan hal-hal buruk tentang diri kita.

Nasib kita dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. Karna apa yang kita ucapkan secara terus menerus akan masuk kedalam fikiran baik sadar maupun bawah sadar yang akan berpengaruh pada sikap dan tindakan kita.

Itu berarti bila kita senantiasa menggemakan hal yang buruk terhadap diri sendiri, maka cepat atau lambat kita akan memakan buah dari perkataan kita. Jadi mulailah cek diri kita sendiri.

Jika hari-hari ini kita merasakan suatu kehidupan yang tidak sehat, tidak bahagia, jauh dari keberhasilan, mungkin tanpa sadar kita sudah berkata-kata tentang hal yang negatif pada diri kita.

Kita berkata," hidupku memang tidak pernah berjalan baik. Kesehatanku selalu buruk. Karirku tidak akan bisa berkembang meskipun aku sudah berusaha keras. Saya tidak akan dapat maju seperti yang lain karna saya memang tidak mempunyai kemampuan seperti kebanyakan orang."

Bila kita terus menerus mengucapkan kata-kata demikian, bahkan ditambah lagi dengan menganggap diri kecil, tidak berguna, tidak bisa berbuat apa-apa. Maka jadilah kita seperti apa yang kita katakan.

Marilah ubah kebiasaan yg tidak menguntungkan tersebut.

Sebaliknya, mulailah memperbaiki diri sendiri, katakan,"Aku InsyaAllah pasti bisa, aku sudah sehat kuat, setiap hari aku selalu mendapat Anugerah hidup sehingga bisa berbagi dengan orang lain. Karierku makin hari makin berkembang karena Tuhan menyertainya." dan lain-lain
Percayalah, kata-kata positif kita ditambah lagi dengan pikiran yg positif, serta tindakan positif akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa dalam hidup kita.

Semoga bermanfaat




Kisah Si Penebang Pohon

ardios | 2:49:00 AM | | Be the first to comment!
Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”
“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.

“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !

Penulis : Andrie Wongso




Jangan Biarkan Orang Lain Merebut Mimpi Anda

ardios | 4:58:00 AM | | | Be the first to comment!
Suatu hari, Langit begitu Indah & Cerah, Awal dari Musim Semi yang membahagiakan..

Di bawah Pohon CERI, Tampak seekor Siput Kecil merayap ke atas perlahan.. Sementara itu, beberapa saat kemudian, muncul seekor Lalat yang terbang kesana kemari dengan ceria sambil memperhatikan si Siput..

Melihat si Siput merayap perlahan, Sang Lalat berkata : "Hai, Siput, kamu hendak kemana?" Dengan tenang, sambil terus merayap, Si Siput kecil menjawab : "Mau makan Buah CERI"

"Ha ha ha, Siput Bodoh.. Mana ada Buah CERI? Aku dari atas sana, Buah CERInya nggak ada" Lalat menertawakan perilaku si Siput Kecil.. Kata si Siput Kecil : "Aku nggak peduli, Saat aku tiba di atas, Pohon CERInya pasti sudah berbuah"

Terkadang bentuk nyata Tujuan Hidup tidak tampak Jelas.. Namun, mereka yang SUKSES adalah mereka yang Bisa menembus waktu, Melihat ke depan & tetap Teguh, Gigih Bergerak untuk mencapai Impiannya..

Orang lain mungkin tidak melihatnya, Bahkan mungkin mencemooh, karena mereka tidak mengerti.. Orang lain akan berusaha menjatuhkan semangat Anda..

Namun pada saat Anda mencapai impian Anda, Pada saat Anda memperoleh Buah CERI yang Anda inginkan, Barulah mereka mengerti bahwa Impian Anda bukanlah Khayalan semata..

Karena itu, Jangan biarkan orang lain merebut mimpi Anda sebelum terwujud.. Beranilah Bermimpi & Tetaplah TEGUH Bergerak untuk meraih mimpi tersebut.