Sembilan Amalan Menggoda di 10 Hari Terakhir Ramadhan

ardios | 12:50:00 AM | | | Be the first to comment!
Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan merupakan masa-masa emas untuk mendulang pahala dan ampunan Allah SWT. Selain itu terdapat banyak keistimewaan luar biasa yang Allah Ta'ala berikan kepada hamba-Nya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Salah satunya adalah adanya satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yang kita kenal dengan malam Lailatul Qadar. Pada malam Lailatul Qadar, satu amalan shalih yang dilakukan, lebih baik nilai dan pahalanya di sisi Allah Ta'ala daripada amalan yang dikerjakan selama 1000 bulan.

Sembilan Amalan Menggoda di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Akan tetapi untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Namun ada sembilan amalan menggoda yang bisa kita lakukan di 10 hari terakhir Ramadhan. Sehingga dengan melakukannya diharapkan bisa menggapai ampunan Allah SWT dan meraih malam lailatul Qadar. Lantas apa saja sembilan amalan menggoda tersebut ?

1. Menjaga shalat lima waktu secara berjamaah di masjid
Amalan pertama yang bisa kita lakukan di sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah dengan menjaga shalat lima waktu secara berjamaah di masjid. Sebagimana Rasulullah SAW bersabda,

"Barangsiapa berwudhu dengan sempurna untuk melaksanakan shalat, kemudian ia berjalan kaki menuju shalat wajib, sehingga ia melaksanakan shalat wajib tersebut bersama masyarakat, atau berjama’ah, atau di masjid, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Muslim no. 232)

Akan tetapi sebaiknya, hal ini tidak hanya dilakukan selama bulan Ramadhan saja namun juga dalam hari-hari lainnya. Sebab ada banyak keutamaan yang bisa kita peroleh bila melakukan shalat berjamaah dimasjid.

2. Melaksanakan puasa ramadhan
Amalan kedua yang bisa dilakukan adalah dengan melaksanakan puasa ramadhan. Hal ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang beriman di bulan Ramadhan. Selain itu setiap amalan yang kita lakukan di bulan ramadhan tanpa diiringi dengan puasa, tentu tidaklah sempurna.

Rasulullah SAW bersabda bahwa, “Barangsiapa melakukan puasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

3. Melaksanakan shalat tarawih dan witir
Shalat tarawih merupakan shalat yang hanya dilaksanakan di bulan Ramadhan. Sehingga sudah seharusnya seorang muslim melakukan shalat tarawih dan witir di bulan Ramadhan sebagai pelengkap ibadah puasanya.  Bahkan Rasulullah SAW mengatakan bahwa siapa saja yang melakukan shalat tarawih dan witir, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Sebagaimana disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa melakukan shalat malam Ramadhan (tarawih dan witir) karena keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

4. Melakukan shalat tarawih daN witir berjamaah di masjid hingga selesai bersama imam
Sangat dianjurkan bagi seorang muslim untuk melaksanakan shalat tarawih dan witir secara berjamaah di masjid hingga selesai dan salam bersama imam. Sehingga bila selama ini kita terbiasa untuk melaksanakn shalat tarawih dan witir dirumah, maka hendaknya merubah kebiasaan tersebut.

Sebagaimana disebutkan dari Abu Dzar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang melakukan shalat (tarawih dan witir) bersama imam sampai selesai, niscaya dicatat baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Daud no. 1375, Tirmidzi no. 806, An-Nasai no. 1364)

5. Bersungguh-sungguh mengisi waktu malam dan siang dengan memperbanyak ibadah
Dibulan Ramadhan sangat dianjurkan untuk memperbanyak melakukan shalat sunnah, membaca Al-Qur'an, berdoa, berdzikir, istighfar dan melakukan amal kebaikan lainnya baik di waktu siang maupun malam.

Sebagimana diriwayatkan oleh Aisyah Ra bahwa, "Kebiasaan Rasulullah SAW jika telah datang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan adalah beliau menghidupkan waktu malam [dengan ibadah], membangunkan keluarga [istri-istrinya], bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mengencangkan sarungnya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)

6. Memperbanyak sedekah dan infak
Selain itu, dibulan Ramadhan juga sangat dianjurkan untuk memperbanyak sedekah dan infak. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa sebaik-baiknya sedekah adalah yang dilakukan di bulan Ramadhan.

“Dari Ibnu Abbas ra berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan dan saat beliau paling dermawana adalah di bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemui beliau. Malaikat Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam dalam bulan Ramadhan untuk saling mempelajari al-Qur’an. Pada saat itu Rasulullah lebih dermawan dalam melakukan amal kebajikan melebihi (cepat dan luasnya) hembusan angin.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)

7. Melakukan I'tikaf
Pada bulan Ramadhan, disunnahkan untuk melakukan i'tikaf selama sepuluh hari terakhir bagi orang-orang yang memiliki kemampuan dan tidak memiliki halangan. Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah Ra bahwa, "Rasulullah SAW selalu melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian para istri beliau melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

8. Ribath dan jiihad di jalan Allah Ta'ala
Bulan Ramadhan merupakan bulan ribath dan jihad. Sebab banyak peperangan besar dalam sejarah Islam terjadi dibulan suci Ramadahan. Namun dimasa kini berjihad bukan berarti harus ikut serta dalam peperangan. Banyak cara lain yang juga termasuk dalam kategori jihad. Misalnya mencari nafkah untuk keluarga.

Sebuah riwayat hadits dari Abu Sa'id al-Khudri ra disebutkan bahwa, "Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berpuasa sehari di jalan Allah (yaitu dalam kondisi berjihad) niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya [yaitu dirinya] dari neraka sejauh 70 musim gugur (yaitu 70 tahun).” (HR. Bukhari 2840 dan Muslim no. 1153)

9. Umrah di bulan Ramadhan
Salah satu amalan yang dianjurkan dibulan Ramadhan adalah melaksanakan umrah. Sehingga bagi orang-orang yang memiliki kemampuan baik dari segi finansial dan fisik, alangkah lebih baik bila melakukan umrah di bulan Ramadhan.

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda bahwa, “Jika datang bulan Ramadhan, maka lakukanlah olehmu umrah, sebab umrah pada bulan tersebut setara (pahalanya) dengan (pahala) haji.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256)

Kemudian beliau juga bersabda bahwa, “Sesungguhnya (pahala) umrah di bulan suci Ramadhan itu setara dengan pahala haji atau haji bersamaku.” (HR. Bukhari no. 1863 dan Muslim no. 1256)
[http://palingyunik.blogspot.co.id/2016/06/sembilan-amalan-menggoda-di-10-hari.html]




Alasan Waktu Imsak Ditetapkan 10 Menit Sebelum Subuh

ardios | 12:07:00 AM | | | | Be the first to comment!
Indonesia menggunakan waktu imsak sebagai peringatan agar Muslim memulai puasa. Tetapi, waktu tersebut bukan mengubah syariah yang menetapkan puasa baru dimulai ketika waktu subuh tiba.

Kementerian Agama menetapkan menggunakan waktu imsak 10 menit sebelum subuh. Ketetapan ini didasarkan pada kesepakatan yang dicapai dalam Rapat Tim Hisab dan Rukyat pada Rabu kemarin.

Rapat ini juga melibatkan sejumlah pihak seperti Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam (PERSIS), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Al Irsyad Al Islamiyyah, Al Washliyah, Persatuan Umat Islam (PUI), Universitas Islam Negeri (UIN), Bosscha ITB, Mahkamah Agung, Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial, Planetarium Jakarta, serta Pakar Hisab RUkyat Perorangan.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais dan Binsyar) Muhammad Thambrin menjelaskan imsak dalam bahasa Arab berarti menahan. Sementara terkait dengan ibadah puasa, waktu imsak digunakan sebagai batasan dimulainya puasa.

Thambrin mengatakan para ulama sepakat puasa dimulai tepat dengan munculnya fajar shadiq, atau waktu subuh. Tetapi, Indonesia menggunakan batasan imsak sebagai waktu cegahan yang mengingatkan Muslim untuk menahan diri meski terdapat kalangan ulama yang membolehkan makan di waktu syak sebelum subuh.

Thambrin mendasarkan hal ini pada hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Qatadah.

"Dari Qatadah, dari Anas bahwa Nabiyullah SAW dan Zaid bin Tsabut bersantap sahur. Setelah rampung dari santap sahur mereka, Nabi SAW berdiri untuk salat, kemudian beliau salat. Kami bertanya kepada Anas, 'Berapa lama antara rampungnya mereka dari santap sahur dan masuknya mereka ke dalam salat?' Ia berkata, 'Kira-kira sepanjang seseorang membaca 50 ayat'."

Dari hadits tersebut, Tim Hisab dan Rukyat menyepakati jarak waktu selesainya santap sahur Nabi SAW hingga masuk waktu salah adalah bacaan 50 ayat, dengan durasi waktu 10 menit. Waktu tersebut kemudian banyak dikenal dengan sebutan Waktu Imsak.

Meski begitu, kata Thambrin, Waktu Imsak bukan dimaksudkan untuk mengubah waktu puasa menjadi lebih maju dari batas yang ditetapkan syariat. Waktu ini hanya sebagai ikhtiar melestarikan sunah sekaligus tanda peringatan agar para Muslim tidak melanggar batas larangan.

"Kesepakatan ini juga didasarkan pada pandangan tentang ihtiyathi atau kehati-hatian dan mahzuri atau siaga," kata Thambrin.

Sumber: kemenag.go.id

[http://www.dream.co.id/news/ini-dasar-imsak-ditetapkan-10-menit-sebelum-subuh-1606243.html]




Sudah Masuk Waktu Subuh Tapi Belum Mandi Usai Junub, Bagaimana Hukum Puasanya?

ardios | 3:55:00 AM | | | Be the first to comment!

Berbeda dengan bulan-bulan lainnya, kesempatan suami istri “bercinta” sepanjang bulan Ramadhan hanya ada di malam hari. Ketika fajar tiba, puasa dimulai. Artinya sejak saat itu ia tidak boleh makan, tidak boleh minum, tidak boleh berhubungan, dan tidak boleh melakukan hal-hal yang membatalkan puasa hingga matahari terbenam.

Ada kalanya pasangan suami istri “bercinta” di malam Ramadhan, namun karena dingin, mereka berdua tidak langsung mandi junub. Tapi menundanya hingga mau menjalankan shalat Subuh.

Pada kasus lain, pasangan suami istri “bercinta” menjelang fajar. Sehingga hal serupa terjadi; mereka memasuki waktu Subuh dalam kondisi belum mandi junub. Apakah puasanya sah?

Alhamdulillah, kita mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini dari hadits Rasulullah. Beliau pernah memasuki waktu Subuh dalam kondisi junub.

أَخْبَرَ مَرْوَانَ أَنَّ عَائِشَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ أَخْبَرَتَاهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

Marwan mengabarkan bahwa sesungguhnya Aisyah dan Ummu Salamah memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapati waktu fajar (adzan Subuh) dalam kondisi junub karena berhubungan dengan istrinya, maka beliau mandi dan tetap berpuasa. (HR. Al Bukhari)

Dalam riwayat Muslim, Aisyah dan Ummu Salamah menjawab dengan redaksi agak berbeda:

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ ثُمَّ يَصُومُ
 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah masuk waktu Subuh dalam kondisi junub bukan karena mimpi, kemudian beliau tetap berpuasa (HR. Muslim)

Dari dua hadits ini dan hadits-hadits lainnya, para ulama menyimpulkan bahwa seseorang yang masuk waktu Subuh (mendapati fajar) dalam kondisi masih junub, puasanya tetap sah. ““Jika seseorang berhubungan dengan istrinya sebelum Subuh dan ketika masuk waktu Subuh, ia masih dalam kondisi junub, maka ia masih boleh melakukan puasa,” terang Imam Nawawi.

Sebagai catatan, ketika suami istri menunda mandi junub, ia disunnahkan untuk berwudhu sebelum tidur. Jika tidak, ada ancaman untuk orang yang langsung tidur setelah “bercinta” tanpa wudhu terlebih dahulu.

Kedua, ketika mengetahui telah masuk fajar, atau mendengar adzan Subuh dan masih dalam kondisi junub, hendaklah segera mandi junub agar tidak ketinggalan shalat Subuh berjamaah. Hal ini terutama untuk laki-laki.

Wallahu a’lam bish shawab.

sumber: bersamadakwah




Ini Hukumnya Saat Suami Mencium Istri di Saat Puasa Ramadhan, Apa Membatalkan Puasa? Ini Jawabannya

ardios | 2:29:00 AM | | | Be the first to comment!
Tahukah kamu apa hukumnya jika suami mencium istri saat sedang berpuasa di bulan ramadhan ? Apakah mencium istri di siang hari dapat membatalkan puasa ?

Untuk mengetahui lebih lanjut kamu bisa menyimak artikel ini. Mari kita simak hadits berikut ini:

عمر بن الخطاب قال: هششت يوماً فقبلت وأنا صائم فأتيت النبي صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم فقلت: صنعت اليوم أمراً عظيماً، فقبلت وأنا صائم فقال رسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: أرأيت لو تمضمضت بماء وأنت صائم؟ قلت: لا بأس بذلك، فقال رسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: ففيم


Dari Umar bin Al-Khatab ra berkata, “Suatu hari aku beristirahat dan mencium isteriku sedangkan aku berpuasa. Lalu aku datangi Nabi Saw dan bertanya, “Aku telah melakukan sesuatu yang fatal hari ini. Aku telah mencium dalam keadaan berpuasa.”

Rasulullah Saw menjawab, “Tidakkah kamu tahu hukumnya bila kamu berkumur dalam keadaan berpuasa?” Aku menjawab, “Tidak membatalkan puasa.” Rasulullah Saw menjawab, “Maka mencium itu pun tidak membatalkan puasa.” (HR Ahmad dan Abu Daud)

Mencium tidak membatalkan puasa, tetapi jangan sampai melanjut hingga hubungan badan. Karena jika melakukan hubungan badan di siang hari saat berpuasa ramadhan, maka perbuatan itu dianggap dosa yang cukup berat.

Abu Syuja’ rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang melakukan hubungan badan di siang hari Ramadhan secara sengaja di kemaluan, maka ia punya kewajiban menunaikan qadha’ dan kafarah,” seperti dilansir tribunnews.com

Kafarah yang harus ditunaikan berupa memerdekakan 1 orang budak beriman. Jika tidak bisa dapat melakukannya, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu lagi maka harus memberi makan 60 orang miskin sebesar 1 mud.

Namun, lain hukumnya jika orang yang melakukan hubungan badan tersebut dalam keadaan lupa, maka tidak akan bebatalkan puasa dan tidak wajib membayar kafaroh.\

[http://beritaupdate.xyz/]




Tips Kelola Emosi Saat Puasa Ramadan

ardios | 7:12:00 PM | | | | Be the first to comment!

Puasa sejatinya bukan hanya menahan haus dan lapar, melainkan juga mengendalikan hawa nafsu atau emosi.

Emosi yang secara signifikan bisa berubah sewaktu-waktu perlu dikelola dengan baik agar puasa tak menjadi sia-sia.

Melansir laman Psyschology Today, James Gross, psikolog dari University of California, Berkeley, melakukan studi tentang emosi pada 2011. Berdasarkan studi tersebut Gross menyarankan model pengelolaan emosi secara bertahap sebagai berikut:

1. Sadar situasi


Memilih untuk menghindari situasi yang bisa memicu amarah adalah salah satu langkah tepat mengelola emosi. Misalnya Anda berangkat 10 menit lebih awal demi menghindari terpancingnya emosi karena kondisi jalanan macet.

2. Alihkan emosi

Saat berada dalam diskusi atau debat pekerjaan yang memanas, jangan terburu-buru menaikkan emosi. Belajar dan biasakan diri untuk tetap tenang akan membantu Anda mengelola emosi dengan baik. Caranya dengan membayangkan suatu hal yang bisa membuat tenang dan senang. Ketika pikiran sudah stabil, Anda bisa membantu situasi yang memanas jadi lebih damai.

3. Ubah pola pikir

Emosi biasanya memuncak ketika kita selalu memikirkan hal negatif dan mengabaikan kebahagiaan. Kecemasan, kegagalan, dan rasa pesimis bisa memicu tingkat emosi Anda. Untuk menghindarinya, coba buat beberapa pilihan sebelum bertindak. Antisipasi akan membuahkan hasil yang baik bagi diri Anda.

4. Ubah respons

Saat emosi menghampiri pikiran, langkah terakhir yang bisa dilakukan untuk mengendalikannya adalah dengan mengubah respons atau reaksi. Tenangkan diri dengan ambil napas dalam-dalam sambil menutup mata sejenak. Cara ini ampuh untuk mengumpulkan daya batin positif.

Referensi : http://ramadan.liputan6.com/read/2533413/tips-kelola-emosi-saat-puasa-ramadan