Kiat-kiat Menghidupkan Bulan Ramadhan

ardios | 3:09:00 AM | | | Be the first to comment!
Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dari bulan-bulan lainnya dengan berbagai keutamaan. Maka sepatutnya kita menyambutnya dengan taubat nasuha dan tekad meraih kebaikan sebanyak-banyaknya di bulan suci ini. Berikut kiat-kiatnya:

1. Berpuasa dengan benar.
Rasulullah n bersabda, “Barangsiapa berpuasa karena keimanan dan semata-mata mengharap pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

(a). Menjauhi kemaksiatan, perkataan dan perbuatan sia-sia.
Rasulullah n bersabda, “Barangsiapa yang tidak menahan diri dari ucapan dusta dan perbuatan buruk maka sedikitpun Allah tidak sudi menerima puasanya meskipun ia menahan diri dari makan dan minum.” (HR. al-Bukhari).

(b). Berniat puasa pada malamnya, mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka dengan membaca do’a berbuka:

ذَهَبَ الظَّمأُ ، وابْتَلَّتِ العُرُوقُ ، وثَبَتَ الأجرُ إِن شاءَ اللهُ

“Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap, Insya Allah”. (HR. Abu Dawud)

2. Shalat Tarawih.
Nabi n bersabda, “Barangsiapa menunaikan qiyamullail pada bulan Ramadhan, karena keimanan dan mengharapkan pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

“Siapa saja yang shalat Tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk”. (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah).

3. Bershadaqah.
Rasulullah n adalah orang yang sangat dermawan; kebaikan dan kedermawanan beliau pada bulan ini melebihi angin yang berhembus. Rasulullah n bersabda, “Seutama-utama shadaqah adalah shadaqah di bulan Ramadhan”. (HR. at-Tirmidzi).
Shadaqah ini di antaranya adalah:

(a). Memberi makan.
Para Salafus Shalih senantiasa berlomba dalam memberi makan kepada orang lapar dan yang membutuhkan. Nabi n bersabda, “Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi makan saudaranya sesama mukmin yang lapar, niscaya Allah akan memberinya buah-buahan Surga. Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi minum saudaranya sesama mukmin yang haus, niscaya Allah akan memberinya minuman dari Rahiqul Makhtum”. (HR. at-Tirmidzi dengan sanad hasan).

(b). Menyediakan makanan berbuka.
Nabi n bersabda, “Barangsiapa menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, niscaya ia akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi ahala orang yang berpuasa itu sedikitpun”. (HR. at-Tirmidzi, hasan shahih).
Dalam riwayat lain dikatakan, “…mendadi penghapus dosanya dan menjadi pembebas sirinya dari api Neraka…”

4. Banyak membaca Al-Qur’an.
Malaikat Jibril memperdengarkan al-Qur’an kepada Rasulullah n pada bulan Ramadhan. Utsman bin Affan z mengkhatamkannya pada setiap hari Ramadhan. Sebagian Salafus Shalih mengkhatamkan setiap 3 malam sekali dalam shalat Tarawih. Imam asy-Syafi’i dapat mengkhatamkan 60 kali di luar shalat dalam bulan Ramadhan. Rasulullah n, para Shahabat dan shalafus Shalih seringkali menangis tatkala membaca atau mendengar al-Qur’an.

5. Tetap duduk di dalam masjid hingga terbit matahari.
Rasulullah n bersabda, “Barangsiapa shalat fajar berjama’ah di masjid, kemudian tetap duduk berdzikir mengingat Allah, hingga terbit matahari lalu shalat dua raka’at (Dhuha), maka seakan-akan ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna dan sempurna”. (HR. at-Tirmidzi, di-shahihkan oleh al-Albani).

6. Mencari malam Lailatul Qadar.
Terutama pada malam-malam ganjil di akhir Ramadhan dengan memperbanyak do’a:

اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan menyukai untuk mengampuni, maka ampunilah aku”. (HR. at-Tirmidzi).

“Barangsiapa shalat di malam Lailatul Qadar karena keimanan dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim). “Diampuni juga dosa yang akan datang”. (dalam Musnad ahmad dari ‘Ubadah).

7. I’tikaf.

Yakni menetapi masjid dan berdiam di dalamnya dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.
“Bila masuk 10 (hari terakhir bulan Ramadhan) Nabi n me-ngencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dengan ibadah dan membangunkan keluarganya”. (HR. al-Bukhari).

“Bahwasanya Nabi n senantiasa ber’itikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

8. Umrah di bulan Ramadhan.
Rasulullah n bersabda, “Umrah di bulan Ramadhan sama seperti ibadah haji”. Dalam riwayat lain, “sama seperti menunaikan haji bersamaku”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

9. Memperbanyak istighfar, dzikir dan do’a.
Terutama di saat sahur, berbuka, hari Jum’at, dan sepertiga malam terakhir sepanjang bulan Ramadhan. (Redaksi an-Nur).

[Kaifa Na’isyu Ramadhan, Syaikh Abdullah ash-Shalih.]

Sumber : Alsofwa




Tampilan Jadwal Waktu Sholat

ardios | 7:21:00 AM | Be the first to comment!
jadwal-sholat




Terungkap sejumlah fakta yang disembunyikan terkait razia Warteg Saeni

ardios | 6:10:00 AM | Be the first to comment!
Terungkap sejumlah fakta lapangan yang disembunyikan terkait razia Satpol PP ke warung Tegal (Warteg) Saeni alias Eni di Jalan Cikepuh, Pasar Rau, Kota Serang, Banten, Rabu (8/6/2016). Hal ini terungkap setelah reporter Jurnalislam.com Muhammad Fajar yang anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU), mengunjungi rumah Saeni, usia 53, pedagang warteg di Serang, Banten yang razia Satpol PP karena tetap buka pada jam puasa, .Ahad (12/6) siang, pic.twitter.com/vz7tmRak2h

Berikut adalah hasil laporannya yang dipublikasikan melalui akun @jituofficial di situs Chirp Story.

1. Ibu Saenih ternyata ga lulus SD dan tidak bisa membaca. Sehingga, tidak bisa membaca edaran tempelan di depan rumahnya. #Ramadan

2. Jadi memang sudah ada edaran larangan jualan siang hari (jam 04.30-16.00) ditempel di depan rmhnya tp bu Saenih gak bisa baca #Ramadan

3. Ini surat edaran dan himbauan menyambut bulan suci #Ramadan yg ditempel SatpolPP di dpn rumah bu Saenih pic.twitter.com/LSHSm1FC4R

4. Meskipun sejumlah barang daganganny disita SatpolPP, sampai hari ini Ibu Saenih masih berjualan walau hanya dgn pintu sedikit terbuka.

5. Saenih: “Kalau sudah dpt modal & itu sangat diharapkan. Saya janji mau buka usaha baru yg lebih layak & tutup pada siang hr di Bln puasa.”

6. Dari poin tsb, trnyata ibu Saenih memang murni tidak tahu atas kesalahan yg diperbuat olehnya dan siap menaati peraturan daerah

7. Ironisnya, kita melihat pemberitaan di media soal penggusuran Ibu Saenih sangat tendensius. Meskipun mereka bilang “ini bukan soal agama”

8. Kita tidak mempermasalahkan sumbangan ke ibu Saenih dari para netizen karena kami percaya#Ramadan membawa berkah bagi kaum lemah..

9. Tapi pada akhirnya, isu ini digulirkan ke arah pengebirian perda2 yg berbau syariah seperti himbauan di bln #Ramadan di Kab. Serang

10. Bantuan utk ibu Saenih ialah amal saleh, tapi jgn sampai kearifan lokal yg menyangkut Muslim diabaikan @jokowi pic.twitter.com/BNX0GkwYYb

11. MUI Provinsi Banten terlihat bijak dalam menyikapi kasus Ibu Saenih.. berikut kami paparkan himbauan dr para ulama Banten, sbb:

11a. PolPP adalah aparat pemda yg berwenang melakukan penindakan dlm penegakan perda tp MUI Banten meminta agar tidak ada penyitaan dagangan

11b. Umat Islam dihimbau tetap tenang dan tdk terpengaruh provokasi pihak2 yg memanfaatkan kejadian ini #Ramadan #MUIBanten

11c. Menyampaikan terimakasih pd masyarakat yg telah tolong menolong dlm kebaikan. Semoga Allah gandakan balasannya #Ramadan #MUIBanten

11d. Menghimbau kepada pedagang agar tetap tenang dan jalankan usahanya selama menjalankan adat Banten dgn menghormati org yg puasa #Ramadan

11e. Menghimbau semua pihak agar tdk mengembangkan peristiwa ini semakin liar&tdk terkendali shingga terjadi konflik yg tdk diinginkan

11f. Terakhir, ulama di MUI Banten mengajak agar masyarakat dlm menyelesaikan masalah ini dan sgala dampaknya diserahkan pd pemda setempat..

12. Semoga pak @jokowi bisa jernih melihat persoalan, mendengarkan para ulama dan sesepuh adat dlm kasus Ibu Saenih pic.twitter.com/x7LwXY9KnA

(azmuttaqin/arrahmah.com)
- See more at: https://www.arrahmah.com/news/2016/06/13/terungkap-sejumlah-fakta-yang-disembunyikan-terkait-razia-warteg-saeni.html#sthash.bY26OeSQ.dpuf





Sukses Dengan Filosofi Panah

ardios | 4:46:00 AM | | | Be the first to comment!
Panah adalah salah satu senjata yang sering digunakan untuk berperang pada zaman dulu karena dulu belum ada bom atom he he he. Dulu belum ada yang namanya senapan, rudal, roket penghancur dan lainnya. Yang ada hanyalah tombak, pedang, golok dan panah. Panah selalu berpasangan dengan busur. Tanpa salah satunya, panah tidak akan berfungsi.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari panah ini? Mari kita lihat...

Coba lihat anak panah! Anak panah selalu runcing di bagian ujungnya. Hal ini dikarenakan supaya panah dapat melumpuhkan dan melukai lawan. Hal ini dapat diibaratkan dengan fokus. Dengan fokus yang tajam, kita bisa menuju dan menembus tujuan yang ingin dicapai. Orang sukses memiliki fokus yang tajam. Mereka fokus dengan apa yang ingin dicapai.

Seperti yang saya katakan tadi, anak panah takkan berfungsi maksimal tanpa busur. Busur diibaratkan dengan alat. Salah satu faktor yang mempercepat kesuksesan kita adalah alat. Anda harus punya alat (tools) yang tepat supaya sukses bisa diraih dengan lebih mudah. Jika Anda ingin pergi ke sebuah tempat yang jaraknya seribu kilometer, manakah yang lebih cepat, jalan kaki, naik sepeda, naik mobil atau naik pesawat? Tentu saja pesawat. Pesawat adalah alat yang paling cepat untuk mengantar Anda sampai ke tempat tujuan. Kalau Anda jalan kaki atau naik sepeda, bisa dipastikan kaki Anda patah yang bahkan dukun patah pun angkat tangan. 

Jika Anda adu balap dengan Valentino Rossi, siapa yang menang? Jika Anda menjawab Rossi, Anda belum sepenuhnya benar. Alat adalah faktor penentunya. Bagaimana jika saat adu balap, Rossi naik sepeda jonder dan Anda naik motor? Sudah pasti Anda yang akan menang. Apakah Anda sudah paham maksudnya? Alat adalah salah satu hal penting yang perlu Anda garisbawahi dalam pencapaian sebuah kesuksesan.

Dalam memanah ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu arah dan kecepatan angin. Angin bisa membuat tembakan Anda meleset. Begitu pula dalam proses meraih kesuksesan pasti akan ada halangan dan rintangan yang perlu Anda perhatikan. Akan ada banyak angin-angin yang membuat Anda meleset dari jalur menuju target. Angin-angin tersebut bisa berupa orang-orang yang berusaha menggagalkan Anda baik secara langsung maupun tidak langsung, bisa juga berupa kegagalan dan masalah tak terduga lainnya. Pemanah harus siap dengan segala macam angin yang datang saat itu. Pemanah yang hebat selalu bisa memanah dengan baik tidak peduli anginnya seperti apa, kecuali angin tornado. Begitu pula orang sukses selalu bisa melewati rintangan demi rintangan sampai akhirnya sukses.

Belajar memanah juga butuh proses. Seorang pemula pasti akan meleset berkali-kali saat pertama kali melakukannya. Butuh kesabara dan keuletan untuk bisa menjadi pemanah andal. Begitu pula dengan kesuksesan yang tidak bisa dicapai hanya dengan sekali jalan. Anda pasti akan gagal berkali-kali bahkan sampai tak terhitung (Kalau Anda nekat hitung, Anda pasti muak dan muntah. Mendingan hitung uang). Jika Anda ingin sukses, Anda harus siap untuk gagal. Gagal adalah hal yang pasti Anda alami. Karena itu Anda harus siap untuk bangkit berkali-kali. Anda harus sabar dan ulet sampai akhirnya sukses berada dalam genggaman tangan.

Dan yang terakhir adalah target. Seorang pemanah harus ada target atau sasaran yang ingin ditembakkan. Begitu pula dengan diri Anda yang harus punya target, tujuan, impian, visi misi dan lainnya. Tanpa tujuan, bisa dipastikan Anda takkan sampai ke sana. Anda seperti berjalan luntang-lantung tak tentu arah. Anda seperti berjalan dengan mata tertutup, tak tahu harus ke mana dan tak tahu berada di mana. Dengan memiliki target atau tujuan, Anda baru bisa fokus ke sana. Dengan memiliki fokus Anda seperti memiliki kompas yang memandu Anda sampai ke sana dan kompas tersebut akan memandu Anda supaya tidak melenceng dari jalur.

Semoga bermanfaat

Source : suhardicamp




Ketika Orang Tua Jadi Pembantu di Rumah Kita Sendiri (Renungan)

ardios | 5:11:00 AM | | |
Beberapa tahun lalu, saya pernah mendengar percakapan sepasang suami istri yang usianya sudah 50-an tahun:

"Kita tak perlu mengharapkan apapun dari anak-anak kita. Yang penting ikhlas saja dalam mendidik mereka. Kalau mereka hidup miskin, kita kebagian susahnya. Kalau mereka hidup senang, kita paling diperlakukan seperti pembantu."

Mungkin Anda menganggap ucapan di atas terlalu berlebihan. Pasti tak ada anak yang tega bila menjadikan orang tua mereka sendiri sebagai pembantu.

Tapi faktanya, saya melihat banyak sekali rumah tangga yang kondisinya seperti itu.

Contoh kasus:
Si suami dan istri bekerja kantoran. Pergi pagi pulang petang. Tak ada pembantu, karena mencari pembantu di zaman sekarang ini sangat tidak mudah. Berita baiknya, di rumah ada ibu mereka. Si ibu inilah yang bertugas menjaga anak, mengurus rumah selagi anak dan mertuanya bekerja, dan seterusnya.

Seorang nenek atau kakek, pastilah senang bila mereka dilibatkan dalam mengurus cucu-cucunya, atau membantu anak-anak mereka dalam meringankan tugas keluarga.

Jadi jika selama orang tua kita senang-senang saja mengerjakannya, tentu tidak masalah.

Tapi kalau kita menjadikan hal tersebut menjadi TUGAS RUTIN, apalagi kalau kita berpikir, "Untung ada Mama yang bisa menjaga si kecil dan mengurus rumah selagi kami bekerja," maka apakah itu tidak sama saja dengan memperlakukan orang tua kita seperti pembantu?

Masya Allah. Naudzubillahi Min Zalik!!!

Banyak pasangan suami-istri yang berpendapat, bahwa kondisi seperti ini terpaksa mereka jalani, karena rezeki masih kurang. Gaji suami tidak cukup, sehingga istri harus ikut bekerja.

Oke, alasan ini terkesan memang masuk akal.

Tapi coba kita renungkan baik-baik:

(1) Yang bertanggung jawab untuk mencari nafkah adalah suami, bukan istri. Jika penghasilan dianggap kurang, seharusnya suamilah yang berusaha untuk menambah penghasilan, bukan istri.

(2) Istri boleh saja bekerja, tapi masih banyak alternatif pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah. Misalnya, berbisnis online. Banyak wanita yang sukses di bidang ini.

(3) Jika Anda seorang wanita dan single parent, ya memang masih bisa dimaklumi jika harus bekerja, karena Anda kini merangkap status sebagai ayah sekaligus ibu. Namun coba baca nomor (2) di atas. Insya Allah saya yakin Anda bisa.

(4) INI YANG PALING PENTING:
Selama kita masih menzalimi orang tua kita sendiri dengan cara memperlakukan mereka seperti pembantu, bagaimana mungkin rezeki kita akan bisa lancar? Rezeki kita akan bisa lancar jika - antara lain - kita bisa membahagiakan dan memuliakan orang tua kita di masa tuanya.

Saat kita masih dalam kandungan, ketika kita lahir, ketika masih anak-anak, ketika kita tumbuh remaja, kita sudah sangat merepotkan mereka. Sekarang setelah kita dewasa dan berumah tangga, masihkah kita terus merepotkan mereka? Sampai kapan???

(5) Ada orang yang berdalih:
"Orang tua saya ikhlas dalam mengurus cucunya. Hubungan mereka pun jadi sangat mesra karena hal itu. Lagipula, lebih baik an lebih aman jika anak kita diasuh oleh neneknya sendiri ketimbang oleh pembantu.

Ya, sekilas itu terkesan masuk akal. Namun coba kita berpikir:

Semua nenek pasti senang dan ikhlas dalam mendidik cucu mereka. Tanpa diminta pun, mereka dengan senang hati menawarkan diri untuk merawat cucu

Namun kita sebagai anaklah yang seharusnya MIKIR, bahwa sejak masih dalam kandungan hingga dewasa.. kita sudah sangat merepotkan mereka. Sekaranglah saatnya untuk balas, budi, memuliakan mereka, bukan justru melanjutkan kerepotan mereka.

Dan soal mendidik anak: Memang benar kurang aman dan kurang baik jika didik oleh pembantu.

Sekilas argumen ini pun terasa masuk akal. Namun coba pikirkan:
Kita pasti tidak rela jika berlian dan emas permata kita digaja oleh pembantu. Namun kenapa anak yang tak ternilai harganya, justru ingin kita titipkan pada pembantu?

Kita sekolah tinggi2 hingga S1 atau S3, tapi anak kita justru dididik oleh orang yang pendidikannya rendah (pembantu). Jadi buat apa kita sekolah tinggi-tinggi? Justru salah satu fungsi pendidikan kita adalah agar kita bisa mendidik anak dengan baik.

(6) Saya teringat dengan sebuah hadits yang terkenal:

....Lelaki itu berkata lagi, "Beritahukan kepadaku kapan terjadinya Kiamat." Nabi menjawab, "Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya." Dia pun bertanya lagi, "Beritahukan kepadaku tentang tanda - tandanya!" Nabi menjawab, "Jika budak wanita telah melahirkan tuannya, jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta penggembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi." (HR Muslim)

Ada satu frase menarik pada hadits di atas, yakni "Jika budak wanita telah melahirkan tuannya". Hm, apa makudnya?

Ustadz Ahmad Sarwat, Lc di http://www.rumahfiqih.com/m/x.php?id=1146798083 menjelaskan bahwa salah satu penafsiran dari frase hadits tersebut adalah:

"Tersebarnya sikap durhaka kepada orang tua.
Dalam pandangan yang lain, ungkapan bahwa budak telah melahirkan tuannya lebih merupakan sekedar ungkapan. Maksudnya, anak-anak akan menjadi durhaka kepada orangtuanya, terlebih kepada ibunya.
Seolah-olah ibunya dijadikan budak, dan anak telah berubah menjadi tuan yang memperbudak ibunya sendiri."

Masya Allah. Naudzubillahi Min Zalik!!!

Mari memuliakan orang tua kita, terutama bagi teman-teman yang orang tuanya masih hidup.

Memuliakan orang tua merupakan salah satu ridha Allah, dan Insya Allah rezeki kita pun semakin mengalir deras dan berkah. Aamiin...

Sumber : https://web.facebook.com/jonru.page/posts/10153724401029729:0