Ketika Orang Tua Jadi Pembantu di Rumah Kita Sendiri (Renungan)

ardios | 5:11:00 AM | | |
Beberapa tahun lalu, saya pernah mendengar percakapan sepasang suami istri yang usianya sudah 50-an tahun:

"Kita tak perlu mengharapkan apapun dari anak-anak kita. Yang penting ikhlas saja dalam mendidik mereka. Kalau mereka hidup miskin, kita kebagian susahnya. Kalau mereka hidup senang, kita paling diperlakukan seperti pembantu."

Mungkin Anda menganggap ucapan di atas terlalu berlebihan. Pasti tak ada anak yang tega bila menjadikan orang tua mereka sendiri sebagai pembantu.

Tapi faktanya, saya melihat banyak sekali rumah tangga yang kondisinya seperti itu.

Contoh kasus:
Si suami dan istri bekerja kantoran. Pergi pagi pulang petang. Tak ada pembantu, karena mencari pembantu di zaman sekarang ini sangat tidak mudah. Berita baiknya, di rumah ada ibu mereka. Si ibu inilah yang bertugas menjaga anak, mengurus rumah selagi anak dan mertuanya bekerja, dan seterusnya.

Seorang nenek atau kakek, pastilah senang bila mereka dilibatkan dalam mengurus cucu-cucunya, atau membantu anak-anak mereka dalam meringankan tugas keluarga.

Jadi jika selama orang tua kita senang-senang saja mengerjakannya, tentu tidak masalah.

Tapi kalau kita menjadikan hal tersebut menjadi TUGAS RUTIN, apalagi kalau kita berpikir, "Untung ada Mama yang bisa menjaga si kecil dan mengurus rumah selagi kami bekerja," maka apakah itu tidak sama saja dengan memperlakukan orang tua kita seperti pembantu?

Masya Allah. Naudzubillahi Min Zalik!!!

Banyak pasangan suami-istri yang berpendapat, bahwa kondisi seperti ini terpaksa mereka jalani, karena rezeki masih kurang. Gaji suami tidak cukup, sehingga istri harus ikut bekerja.

Oke, alasan ini terkesan memang masuk akal.

Tapi coba kita renungkan baik-baik:

(1) Yang bertanggung jawab untuk mencari nafkah adalah suami, bukan istri. Jika penghasilan dianggap kurang, seharusnya suamilah yang berusaha untuk menambah penghasilan, bukan istri.

(2) Istri boleh saja bekerja, tapi masih banyak alternatif pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah. Misalnya, berbisnis online. Banyak wanita yang sukses di bidang ini.

(3) Jika Anda seorang wanita dan single parent, ya memang masih bisa dimaklumi jika harus bekerja, karena Anda kini merangkap status sebagai ayah sekaligus ibu. Namun coba baca nomor (2) di atas. Insya Allah saya yakin Anda bisa.

(4) INI YANG PALING PENTING:
Selama kita masih menzalimi orang tua kita sendiri dengan cara memperlakukan mereka seperti pembantu, bagaimana mungkin rezeki kita akan bisa lancar? Rezeki kita akan bisa lancar jika - antara lain - kita bisa membahagiakan dan memuliakan orang tua kita di masa tuanya.

Saat kita masih dalam kandungan, ketika kita lahir, ketika masih anak-anak, ketika kita tumbuh remaja, kita sudah sangat merepotkan mereka. Sekarang setelah kita dewasa dan berumah tangga, masihkah kita terus merepotkan mereka? Sampai kapan???

(5) Ada orang yang berdalih:
"Orang tua saya ikhlas dalam mengurus cucunya. Hubungan mereka pun jadi sangat mesra karena hal itu. Lagipula, lebih baik an lebih aman jika anak kita diasuh oleh neneknya sendiri ketimbang oleh pembantu.

Ya, sekilas itu terkesan masuk akal. Namun coba kita berpikir:

Semua nenek pasti senang dan ikhlas dalam mendidik cucu mereka. Tanpa diminta pun, mereka dengan senang hati menawarkan diri untuk merawat cucu

Namun kita sebagai anaklah yang seharusnya MIKIR, bahwa sejak masih dalam kandungan hingga dewasa.. kita sudah sangat merepotkan mereka. Sekaranglah saatnya untuk balas, budi, memuliakan mereka, bukan justru melanjutkan kerepotan mereka.

Dan soal mendidik anak: Memang benar kurang aman dan kurang baik jika didik oleh pembantu.

Sekilas argumen ini pun terasa masuk akal. Namun coba pikirkan:
Kita pasti tidak rela jika berlian dan emas permata kita digaja oleh pembantu. Namun kenapa anak yang tak ternilai harganya, justru ingin kita titipkan pada pembantu?

Kita sekolah tinggi2 hingga S1 atau S3, tapi anak kita justru dididik oleh orang yang pendidikannya rendah (pembantu). Jadi buat apa kita sekolah tinggi-tinggi? Justru salah satu fungsi pendidikan kita adalah agar kita bisa mendidik anak dengan baik.

(6) Saya teringat dengan sebuah hadits yang terkenal:

....Lelaki itu berkata lagi, "Beritahukan kepadaku kapan terjadinya Kiamat." Nabi menjawab, "Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya." Dia pun bertanya lagi, "Beritahukan kepadaku tentang tanda - tandanya!" Nabi menjawab, "Jika budak wanita telah melahirkan tuannya, jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta penggembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi." (HR Muslim)

Ada satu frase menarik pada hadits di atas, yakni "Jika budak wanita telah melahirkan tuannya". Hm, apa makudnya?

Ustadz Ahmad Sarwat, Lc di http://www.rumahfiqih.com/m/x.php?id=1146798083 menjelaskan bahwa salah satu penafsiran dari frase hadits tersebut adalah:

"Tersebarnya sikap durhaka kepada orang tua.
Dalam pandangan yang lain, ungkapan bahwa budak telah melahirkan tuannya lebih merupakan sekedar ungkapan. Maksudnya, anak-anak akan menjadi durhaka kepada orangtuanya, terlebih kepada ibunya.
Seolah-olah ibunya dijadikan budak, dan anak telah berubah menjadi tuan yang memperbudak ibunya sendiri."

Masya Allah. Naudzubillahi Min Zalik!!!

Mari memuliakan orang tua kita, terutama bagi teman-teman yang orang tuanya masih hidup.

Memuliakan orang tua merupakan salah satu ridha Allah, dan Insya Allah rezeki kita pun semakin mengalir deras dan berkah. Aamiin...

Sumber : https://web.facebook.com/jonru.page/posts/10153724401029729:0