Sandal Jepit Isteriku

ardios | 2:51:00 PM |
Pernikahanku dengan seorang gadis  atas permintaan ayahku. Tetapi sesungguhnya aku tidak mencintainya. Istriku bernama Leila Sari,  teman SMA dan kini menjadi teman sekampus. Dia seorang gadis baik, berwajah manis, lulusan Sastra Inggris dan  sebelumnya memiliki pekerjaan yang baik. Kadang, aku menyesal mengapa mengenalkannya kepada orangtuaku. Leila sungguh perhatian dan mudah bergaul,  dalam waktu  singkat saja orang tuaku sangat menyukainya.

Saat itu sebenarnya aku sudah memiliki kekasih yang sangat kucinta, Amelia lulusan dari Jurusan Komunikasi Massa. Fakultas kami berdekatan dan aku mengenalnya ketika kami satu group dalam Pengenalan Orientasi Perguruan Tinggi Negeri. Wanita yang sangat cantik dengan hidung lancip mancung, dagu yang bagus, memiliki rambut yang sangat indah dan tubuh tinggi langsing.

Ketika pertama kali melihatnya aku langsung jatuh hati padanya. Lalu sengaja aku duduk dibelakangnya supaya bisa memperhatikan dia tanpa ketahuan. Hingga suatu saat kutarik-tarik rambut indahnya – walau merasa itu seperti anak kecil –  Amelia menoleh ke belakang sambil tertawa manis. Sejak saat itulah aku tahu, kami memiliki perasaan yang sama. Dan sebulan setelah itu kami jadian. Dan tanpa terasa hubungan kami sudah berjalan selama 5 tahun. Walau sama-sama saling mencintai tetapi kami beda agama. Dan Amelia bersikeras  tetap berpegang pada agamanya begitu juga dengan diriku.

Aku memiliki orang tua yang hebat dan tak pernah mengeluh. Kini ayahku sudah sangat berumur dan sakit-sakitan. Kemudian sesuatu terjadi padanya dan beliau dilarikan ke IGD lalu dimasukan ke ICU. Sebulan kemudian ayahku sadar dari koma dan  diruang ICU RS Pertamina Lt.5 ayahku berkata dengan lirih,”Ryan, bila ingin hidup bahagia dunia dan akherat Insya Allah, menikahlah dengan Leila”. Bagaikan disambar petir, aku terdiam cukup lama.

Selama ini, orang tuaku tidak pernah meminta apapun dariku. Beliau adalah pekerja keras, jujur dan mendidik kami dengan tegas. Setiap jam tiga pagi, ayah ibuku bangun untuk mempersiapkan segala keperluan kami, anak-anaknya seperti makan pagi, mencuci pakaian, membereskan rumah dan sebagainya. Hingga di usiaku yang menginjak dewasa, beliau tetap memperhatikan kami dengan kasih sayang.  Aku belum pernah memberi apapun untuk mereka, pemberian yang sepadan atas didikan dan pengorbanan orangtuaku.

Bila kupikir, permintaan ayahku itu masuk akal – aku dan Amelia tak mungkin bisa bersama – tapi lucunya dalam hati aku jadi menyalahkan Leila akan hal ini. Tak ada dalam bayangan menikah dengan wanita yang tidak kucintai. Selama ini dia hanya kuanggap sebagai teman saja.

Aku tak mau Amelia kehilangan masa muda dan kesempatan untuk mendapatkan pria baik hanya karena hubungan kami yang tidak pasti.  Aku dan Amelia pun putus secara baik-baik. Dua tahun setelahnya - waktu yang cukup lama untuk melupakan - aku melamar dan menikah dengan Leila. Dan kini pernikahan kami telah memasuki tahun ke-3, dan kami memiliki anak bayi yang lucu berusia 2 tahun.

*****

Sejak awal bertemu dengan Ryan - perkenalan pada masa SMA – Leila Sari jatuh hati padanya. Ada saja alasan untuk mendekat, bertanya ini itu atau mencari perhatiannya. Ryan, Lelaki tampan yang tak pernah berkata kasar. Banyak anak gadis suka padanya, hanya saja dia terlalu cuek seperti cueknya kepadaku. Leila Sari betul-betul merasa sangat kesal, keberadaannya seakan-akan tidak ada.

Leila Sari merasa senang, berada dalam satu sekolah yang sama dengan Ryan, sejak SMA. Kini setelah menjadi mahasiswa, mereka bersama lagi dalam satu Fakultas walau beda jurusan. Tetapi rasa senangnya berubah menjadi galau ketika Amelia diperkenalkan sebagai pacar oleh Ryan kepadanya ketika mereka bertemu di Kansas, kantin sederhana yang berada di Fakultas.

Saat itu Leila Sari tersenyum dan memandang kagum dan mengakuinya dalam hati , ”Amelia sungguh sangat cantik, aku tidak secantik dirinya”. Walau tahu bahwa ia bukanlah apa-apa, Leila Sari merasa cemburu melihat kedekatan dan perhatian Ryan kepada Amelia. Kadang ia ingin walau hanya sekali untuk bertukar tempat  bagaimana rasanya mendapat perhatian dan kasih sayang dari Ryan.

Leila Sari tidak paham, banyak lelaki yang menyatakan cintanya, tetapi semuanya ia tolak. Hatinya telah terpaut hanya pada Ryan. Sering dalam shalatnya ia menangis dan mengaduh pada Tuhan untuk didekatkan atau dijauhkan agar ia bisa memiliki atau melupakannya. Tetapi tangisan dan doanya “belum dikabulkan” Tuhan. Ia dan Ryan seperti berada dalam satu lingkaran kehidupan yang bersinggungan tidak bisa lepas ataupun juga tidak bisa menyatu.

Lalu kejadian yang tak disangka datang, sesuatu yang selama bertahun-tahun dinantikannya. Saat itu Ryan mengajak makan malam dan melamarnya. Jantungnya berdegup tak percaya akan pendengarannya sendiri. Betapa bahagianya Leila pada waktu itu.

Tetapi semenjak menikah, Ryan menjadi pendiam dan jarang tersenyum. Hanya pada buah hatinya suaminya menyempatkan diri becanda dan tertawa. Padahal senyumnya itu sungguh menawan, karena senyumnya itu dulu yang membuat Leila tergila-gila. Ryan memang tak pernah berkata kasar tetapi diamnya itu sungguh menyiksa hati.

Leila menyadari bahwa ia tak pandai memasak. Pernah ia memasak rendang sepanci penuh dan rasanya sangat asin. Saat itu suaminya berkata,”Kita hanya berdua, masaknya kok sebanyak ini. Lebih murah dan enak beli jadi di Warung Padang”.  Kata-kata suaminya itu benar. Leila menyesal, mengapa dulu ketika masih muda tidak pernah sekalipun memasak. Semuanya diurus oleh mama atau pembantunya. Tiba-tiba air matanya  menetes di pipinya, menyesali dirinya.

Melihat air mata istrinya, suaminya terdiam. Sejak saat itu suaminya tidak pernah mengomentari masakannya lagi.  Sisa daging yang banyak dan keras itu direbus lagi oleh suaminya di Panci Presto selama satu jam. Lalu dagingnya dipotong-potong untuk isian telur dadar. Leila tidak percaya, bahkan telur dadar buatan suaminya ini lebih enak daripada telur dadar buatannya.

Leila paham bahwa suaminya kerja keras untuk menghidupi keluarganya. Tetapi ia ingin sekali suaminya ceria seperti dulu ketika mereka masih berteman. Pada ketakutan hatinya yang terdalam, Ia merasa suaminya tidak mencintainya. Kadang, pada tengah malam, Leila bangun tidur dan shalat. Sambil bersujud dan berurai air mata memohon ampun, Leila  memohon kepada Tuhan ingin melihat senyum suaminya.

*****

“Mas nanti sore jemput ya, aku ada pengajian dan pertemuan dengan teman-teman sekampusku dulu,” kata Leila penuh harap.

“Enggak tahu dek, mas hari ini sibuk sekali. Ada rapat dengan klien. Kalau rapat bisa selesai cepat, mas jemput ya. Dek, kesana naik taxi saja, jangan bus. Bila bisa ku sms ya, bila tidak ada sms berarti tidak bisa,”kata Ryan.

Tetapi lain dari biasanya, rapat kali ini berlangsung mulus dan cepat. Tiba-tiba saja, Ryan merasa rindu kepada istrinya. Lalu Ryan meminta izin pulang dan dengan cepat memacu Honda CBR 250 hingga sampai ke Mesjid tempat pertemuan dan pengajian itu.

Ryan menaiki tangga lalu menuju ke tempat ruangan khusus pengajian tiba-tiba matanya tertuju pada lantai. Sandal jepit istrinya berjejer dengan sepatu kulit  mewah milik teman-temannya. Pemandangan yang sangat kontras.

Jam 5 sore pertemuan dan pengajian selesai. Satu per satu teman-temannya keluar, mereka semua memakai pakaian yang indah dengan warna yang cemerlang. Dan istrinya keluar belakangan dengan pakaian rapi yang warnanya telah pudar. Sambil bersendau gurau mereka semuanya tertawa dan masing-masing dari mereka menaiki mobil.

Ryan termenung dan tiba-tiba dadanya luar biasa nyesek, setetes air mata menggenang dari pelupuk matanya. Istrinya tak pernah mengeluh, selalu menurut apa yang diminta suaminya. Ryan ingat ketika itu gaji istrinya 3 kali lebih besar darinya. Jabatannya cukup tinggi dan mendapatkan fasilitas yang cukup bagus seperti mobil kantor dan asuransi kesehatan. Tetapi istrinya menurut ketika Ryan meminta istrinya berhenti kerja dulu untuk mengurus bayinya yang baru lahir. Dan kini, penampilan istrinya beda sekali tidak seperti dulu ketika masih kerja. “Tuhan, ampuni hambamu yang lalai memperhatikan istri sendiri,”katanya dalam hati penuh penyesalan.

Ryan menghampiri istrinya dan memanggilnya dengan lembut. Seketika itu istrinya berbalik dan tak percaya suaminya ada disitu menjemputnya. Matanya berbinar-binar senang, senyum kebahagian menghias seraut wajahnya. Ryan terpana melihat mata dan senyum istrinya. Kini ia melihat betapa istrinya terlihat sangat cantik.  Kini ia paham akan kata-kata ayahnya 3 tahun yang lalu.

*****

Keesokan harinya, Ryan membeli sepasang sepatu dan sandal serta empat pasang baju untuk istrinya. Lagi-lagi senyum kebahagian terpancar dari wajah istrinya, “Alhamdulillah,” katanya tulus. Ryan tersenyum sambil mengecup kening istrinya dengan penuh rasa sayang.

“Ini mas juga membawa brosur liburan. Untuk merayakan ulang tahunmu yang tinggal dua minggu lagi. Mas sudah mengambil cuti untuk itu. Menurut adek, enaknya kita kemana, pilih saja yang adek suka”, Kata Ryan lembut. Leila Sari tak percaya, ia melihat senyum dan kata-kata yang penuh cinta dari  suaminya. Senyum  dan perhatian yang sungguh menawan yang selama 3 tahun ini begitu didambakannya. “Terima kasih Tuhan,” bisik hatinya lirih. Kini semua usaha dan doanya terkabul sudah .

Semoga bermanfaat




Comments
0 Comments

No comments: