Kisah Rasulullah Yang Minta di Qishash

ardios | 3:18:00 PM | | | |
Sepulang dari Mekah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam segera mengumpulkan para sahabat, kemudian menyampaikan turunnya ayat dan pesan Jibril kepada Beliau. Beliau juga menyampaikan, dengan turunnya ayat tersebut mengisyaratkan bahwa perpisahan Beliau dengan para sahabat sudah dekat..

Mendengar keterangan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam tersebut para sahabat menangis sejadi-jadinya. Mereka sangat sedih karena akan berpisah dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam , pembawa rahmat bagi mereka.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mengutus Bilal untuk mengumandangkan Adzan, memanggil umat Islam untuk sholat jama’ah.”

Setelah sholat berjama’ah bersama sahabat Muhajirin dan Anshar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam naik mimbar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam memanjatkan puja-puji bagi Allah kemudian bersabda:

“ Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya aku adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, penasihatmu, yang mengajakmu ke jalan Allah dengan ijin-Nya. Sesungguhnya aku adalah saudaramu, seperti saudara sekandung dan sebapak yang saling mengasihi. Karena itu, siapa yang pernah kusakiti, balaslah hari ini sebelum hari Kiamat.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam minta kerelaan hati kepada yang pernah disakiti agar membalasnya sesuai dengan apa yang pernah dirasakan. Dalam hukum Islam balasan setimpal disebut dengan Qishash.

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bertanya siapa yang pernah disakiti oleh beliau dan ingin membalasnya dipersilkan untuk membalas hari itu, namun tidak ada satupun yang hadir saat itu berdiri menuntut Qishash kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam , Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam kembali mengulang penawarannya sampai 3 kali agar kaumnya tidak segan-segan untuk melakukannya.

Akhirnya.................Ukasyah bin Muhsin mendekati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan berkata sambil didengarkan semua orang yang hadir di situ:

“ Sebenarnya aku enggan dan tidak sampai hati seandainya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam tidak menganjurkannya sampai berulang kali. Aku terpaksa memberanikan diri berdiri di sini untuk menceritakan apa yang pernah kualami atas perlakuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dalam perang Badar. Ketika itu untaku mendekati unta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan aku turun agar bisa mencium pahamu. Tapi kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mengangkat cambuk sehingga aku terkena cambuk itu. Bagian pinggangku yang terkena. Aku tidak tahu dan tidak berfikir apakah pada waktu itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam sengaja memukulku atau memukul untanya tetapi yang jelas aku terkena cambuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam "

“ Apakah mungkin aku mencambukmu, hai Ukasyah?”

Tanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Kemudian Beliau memerintahkan Bilal untuk mengambil cambuk di rumah Fatimah, anak perempuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Saat Bilal mengambil cambuk di rumah Fatimah, Fatimah menjadi heran dan bertanya :

“ Untuk apa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mengambil cambuk ini? “

“ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam hendak melakukan Qishas.” Jawab Bilal

“ Siapakah orang yang sampai hati menuntut qishash kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, ayahku ? “ bisik Fatimah dalam hati.

Setiba di masjid, Bilal memberikan cambuk tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Beliau kemudian menyerahkan cambuk itu kepada sahabatnya Ukasyah agar segera melakukan qishash berupa cambukan balasan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Melihat Ukasyah berdiri memegang cambuk dan siap memukul pinggang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, Abu Bakar dan Umar bin Khotob mencegahnya.

“ Wahai Ukasyah, terimakan qishash itu pada diriku. Aku tak sampai hati dirimu menempelkan cambuk itu pada punggung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam ! " kata Abu Bakar

“ Duduklah engkau berdua, Allah telah mengetahui kedudukan dan pengorbananmu.” ujar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Merasa tersinggung dengan sikap Ukasyah dan didorong kesetiaannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallamnya, Ali bin Abi Tholib, menantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam pun berdiri sembari berkata:

“ Wahai Ukasyah, engkau tahu aku masih hidup di samping Beliau. Bila engkau tetap nekad dan berkeras hati membalas cambukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, ini perutku, dadaku atau punggungku. Silakan pilih mana yang kau suka dan cambuklah sekuat tenagamu.”

Ucap Ali serasa menyodorkan bagian tubuhnya siap menerima cambukan.

Melihat kejadian tersebut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam berkata :

“ Wahai Ali, aku telah mengetahui kedudukan dan pengorbananmu, karena itu duduklah.“

Hasan dan Husain, cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam ikut membela. Dengan nada keras cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam itu berkata:

“ Engkau tahu Ukasyah, bahwa kami adalah cucu-cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam yang masih ada hubungan darah dengan Beliau. Jika engkau mau membalas qishash pada kami itu sama saja dengan engkau menerima qishash dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Maka cambuklah kami! ” pinta mereka.

“ Duduklah engkau berdua, cambuklah, wahai Ukasyah jika memang benar aku telah memukulmu “. Rasulullah memerintahkan kedua cucunya.

Ternyata ada permintaan lain lagi dari Ukasyah. Ukasyah berkata :

“ Ya , Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, dulu cambuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mengenai punggungku yang terbuka.”

Sesuai dengan permintaan Ukasyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam membuka bajunya sehingga nampaklah punggungnya yang putih bersih. Ukasyah kemudian berjalan mendekati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Adegan itu disaksikan oleh para sahabat dengan menundukkan kepala serta air matanya menetes. Mereka menahan nafas menanti peristiwa yang akan terjadi di saat mendekati akhir kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Ketika berada di dekat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan melihat punggung Beliau yang putih bersih, Ukasyah langsung memeluk pinggang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan menciuminya sepuas hati sambil berkata :

“ Siapa orangnya yang sampai hati menerima qishash darimu, ya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.”

Kini perasaan tegang itu berubah menjadi haru. Semua sahabat menarik nafas lagi melihat sikap Ukasyah yang tiba-tiba berubah. Ukasyah berkata lagi:

“ Maksudku, aku hanya ingin agar tubuhku menempel pada tubuhmu, ya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Semoga tubuhmu menjadi penghalang api neraka yang menyulut tubuhku. “

Setelah suasana reda, sambil menunjuk kepada Ukasyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam berkata :

“ Ketahuilah, bahwa siapa yang ingin melihat ahli syurga, maka lihatlah orang ini.”

Mendengar kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, para sahabat beramai-ramai memeluk tubuh Beliau sambil mencurahkan isak tangisnya. Kepada Ukasyah mereka berkata:

“Berbahagialah engkau, yang telah menerima derajat yang tinggi. Dan engkau kelak mendampingi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam di syurga.

Ya Allah mudahkanlah kami menerima syafaatnya karena kemuliaan dan keagunganMu.

SHOOLU 'ALAN NABIIY.....




Comments
0 Comments

No comments: